Budaya Bangsa indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tingkeban sebagai salah satu dari
keberagaman budaya Bangsa Indonesia, sudah tidak asing lagi di telinga
masyarakat Ponorogo, dan sekitarnya. Menurut ilmu sosial dan budaya, tingkeban
dan ritual-ritual lain yang sejenis adalah suatu bentuk inisiasi,
yaitu sarana yang digunakan guna melewati suatu kecemasan. Dalam hal ini,
kecemasan calon orang tua terhadap terkabulnya harapan mereka baik selama masa
mengandung, ketika melahirkan, bahkan harapan akan anak yang terlahir nanti.
Maka dari itu, dimulai dari nenek moyang terdahulu yang belum mengenal agama,
menciptakan suatu ritual yang syarat akan makna tersebut, dan hingga saat ini
masih diyakini oleh sebagian masyarakat Ponorogo dan sekitarnya.
Sedemikian rumitnya ritual tingkeban ini,
hingga memerlukan tenaga, pikiran, bahkan materi baik dalam persiapan maupun
ketika pelaksanaannya. Semua tahap-tahap tersebut diyakini oleh
masyarakat sebagai tahap-tahap yang harus dilalui. Mulai dari pemilihan hari
dan tanggal pelaksanaan saja harus memenuhi syarat dan ketentuan yang ada.
Apabila mereka melanggar, maka masyarakat sekitar akan segera merespon negatif terhadap
hal tersebut. Piranti-piranti yang tidak sedikit jumlahnya tentu membutuhkan
dana yang tidak sedikit pula. Dalam persiapannya, khususnya piranti yang
berupa makanan ada yang memerlukan waktu hingga tiga hari sebelum
pelaksanaan acara, seperti jenang dodol. Bahkan ada beberapa
piranti yang harus terbuang sia-sia. Akan tetapi masih banyak masyarakat yang
belum sadar akan hal itu, bahkan mengaggapnya wajar.
Gunung Lawu bagi sebagian besar masyarakat Ponorogo
sangatlah sakral keberadaannya.Awalnya semua adat istiadat dan budaya daerah
sekitar gunung tersebut, termasuk lereng sebelah timur pun berkiblat pada
Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Akan tetapi ketika runtuhnya
Kerajaan Majapahit pada tahun 1400, terjadi akulturasi budaya dengan Kerajaan
Majapahit. Hal ini terjadi karena raja Majapahit Prabu Brawijaya V memilih arah
barat sebagai tempat pelariannya ketika penyerangan oleh pasukan Islam. Dan
pelarian itu menunjukkan jalan kepada Prabu Brawijaya V sampai di Gunung Lawu
sebagai tempat pelariannya hingga akhir hayatnya
Dari beberapa pemaparan di atas, penulis
memilih judul tersebut karena merupakan tradisi warisan leluhur yang masih
dianggap sangat sakral. Demikian juga dengan memilih daerah
Ponorogo sebagai tempat penelitian karena letaknya yang berada
didekat lereng gunung Lawu. Ponorogo meruapakan salah satu
daerahyang dahulunya telah terjadi akulturasi antara budaya Yogyakarta dan
Majapahit. Selain itu juga didukung dengan sumber-sumber data yang
relevan.
B. Rumusan Masalah
1. Seperti apa sejarah munculnya Tingkeban itu?
2. Apa saja perlengkapannya serta bagaimana
prosesinya?
3. Adakah Kaitannya antara tradisi tersebut
dengan ajaran Islam?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah munculnya upacara
Tingkeban.
2. Untuk mengetahui hal-hal yang disiapkan serta
jalannya upacara Tingkeban.
3. Untuk mengetahui kaitan antara upacara
Tingkeban dan ajaran Islam.
D. Manfaat
Penelitian ini kami laksanakan dengan
harapan agar masyarakat setempat khususnya dapat memahami tradisi tersebut
secara benar, baik dipandang dari segi budaya maupun ajaran agama. Selain itu
tulisan ini juga sebagai sarana berlatih bagi penilis untuk meningkatkan
kemampuan menulis penulis. Dan sebagai media pewarisan ilmu oleh sesepuh
kepada generasi penerus. Dengan adanya karya tulis ini penulis berharap
dapat memberi sedikit sumbangan kepadamasyarakat terutama masyarakat. kampus.
Selain itu, mungkin dapat digunakan sebagai referensi dalam
penelitian-penelitian serupa dikemudian hari.
Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah agar
upacara tradisi tingkeban yang sangat baik ini dapat dilaksanakan sesuai dengan
ajaran-ajaran Islam yang benar-benar bernilai Islami.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Munculnya Tingkeban
Tingkeban sebagai salah satu dari
keberagaman budaya Bangsa Indonesia, sudah tidak asing lagi di telinga
masyarakat Ponorogo, dan sekitarnya. Menurut ilmu sosial dan
budaya, tingkeban dan ritual-ritual lain yang sejenis adalah suatu bentuk inisiasi,
yaitu sarana yang digunakan guna melewati suatu kecemasan. Dalam hal ini,
kecemasan calon orang tua terhadap terkabulnya harapan mereka baik selama masa
mengandung, ketika melahirkan, bahkan harapan akan anak yang terlahir nanti.
Maka dari itu, dimulai dari nenek moyang terdahulu yang belum mengenal agama,
menciptakan suatu ritual yang syarat akan makna tersebut, dan hingga saat ini
masih diyakini oleh sebagian masyarakat Ponorogo.
Tingkeban menurut cerita yang dikembangkan
turun-temurun secara lisan, memang sudah ada sejak zaman dahulu.Menurut cerita
asal nama “Tingkeban” adalah berasal dari nama seorang ibu yang bernama Niken
Satingkeb, yaitu istri dari Ki Sedya. Mereka berdua memiliki sembilan orang
anak akan tetapi kesembilan anaknya tersebut selalu mati pada usia dini.
Berbagai usaha telah mereka jalani, tetapi tidak pula membuahkan hasil. Hingga
suatu saat mereka memberanikan diri untuk menghadap kepada Kanjeng Sinuwun Jayabaya.
Jayabaya akhirnya menasehati mereka agar
menjalani beberapa ritual. Namun sebagai syarat pokok, mereka harus rajin manembah
mring Hyang Widhi laku becik,welas asih mring sapada, menyembah kepada
Tuhan Yang Maha Esa dengan khusyu’, dan senantiaasa berbuat baik welas asih
kepada sesama. Selain itu, mereka harus mensucikan diri, mandi dengan
menggunakan air suci yang berasal dari tujuh sumber air. Kemudian
berpasrah diri lahir batin dengan dibarengi permohonan kepada Gusti Allah,apa
yang menjadi kehendak mereka, terutama untuk kesehatan dan kesejahteraan si
bayi. Supaya mendapat berkah dari Gusti Allah, dengan menyertakan sesaji yang
diantaranya adalah takir plontang, kembang setaman, serta kelapa gading
yang masih muda.
Setelah serangkaian ritual yang dianjurkan
oleh Raja Jayabaya, ternyata Gusti Kang Murbeng Dumadi yaitu Gusti Allah
mengabulkan permohonan mereka. Ki Sedya dan Niken Satingkeb mendapat momongan
yang sehat dan berumur panjang. Untuk mengingat nama Niken Satingkeb,
serangkaian ritual tersebut ditiru oleh para generasi selanjutnya hingga
sekarang dan diberi nama Tingkeban Dengan harapan mendapat
kemudahan dan tidak ada halangan selama hamil, melahirkan, hingga si anak
tumbuh dewasa. Atas dasar inilah akhirnya hingga kini ritual tingkeban tetap
dilaksanakan bahkan menjadi suatu keharusan bagi masyaraka Jawa khususnya di
daerah Ponorogo dan sekitarnya.
B. Perlengkapan Tingkeban.
Dahulu
masyarakat Ponorogo mengenal tiga teradisii yang harus dilaksanakan
selama masa mengandung. Ketiga teradisi tersebut adalah tradisi Neloni,
Tingkeban atau Rujakan dan Procotan. Akan tetapi seiring perkembangan
zaman, ketiga tradisi tersebut diringkas secara pelaksanaannya menjadi satu,
yaitu ketika waktu Tingkeban atau tujuh bulan. Walaupun diringkas secara waktu
tetapi ubo rampeatau piranti yang harus disiapkan dari
tiap-tiap ritual tetap disediakan.
Jauh-jauh hari sebelum usia kandungan
memasuki tujuh bulan,calon orang tua bayi harus mementukan hari yang baik
sesuai petungan Jawa. Menurut petungan Jawa hari-hari yang baik itu
yang memiliki neptu genap dan jumlahnya 12 atau
16.
Tabel 1. Neptune Dino lan Pasaran Petungan Jawa
No
|
Nama Hari
|
Neptune
|
No
|
Nama Pasaran
|
Neptune
|
1
|
Akhad
|
5
|
1
|
Pon
|
7
|
2
|
Senin
|
4
|
2
|
Wage
|
4
|
3
|
Selasa
|
3
|
3
|
Kliwon
|
8
|
4
|
Rabu
|
7
|
4
|
Legi
|
5
|
5
|
Kamis
|
8
|
5
|
Pahing
|
9
|
6
|
Jum’at
|
6
|
|||
7
|
Sabtu
|
9
|
Hari-hari yang baik adalah yang neptunya
12 atau 16 misal Kamis Kliwon, Senin Kliwon, Akhad Pon dan sebagainya. Kamis
memiliki neptu 8 dan Kliwon memiliki neptu 8 jadi Kamis Kliwon memiliki neptu
16, begitu juga Senin Kliwon memiliki neptu 12 dan Akhad Pon memiliki neptu 12.
Selain penentuan hari yang ada aturannya,
segala ubo rampe atau piranti juga sangat rumit pula.
Masing-masing ritual ada piranti sendiri-sendiri yang beraneka ragam. Semua
piranti tersebut disediakan bukan tanpa maksud. Dari sumuanya memiliki werdi atau
makna sendiri-sendiri.
Tabel 2. Piranti Ritual Tingkeban
No
|
NamaRitual
|
Waktu Seharusnya
|
Piranti
|
1
|
Neloni
|
Tiga bulan dari masa mengandung
|
Takir plontang 4 buah
|
Golong 7 buah
|
|||
Jajan pasar
|
|||
Jenang abang
|
|||
Jenang putih
|
|||
Jenangkuning
|
|||
Jenang ireng
|
|||
Jenang sengkolo
|
|||
2
|
Tingkeban
|
Enam bulan dari masa kehamilan
|
Woh-wohan
|
Punar 2 buah
|
|||
Kembang setaman
|
|||
Sesaji dakripin(Suro ganep)
|
|||
Daun dadap srep
|
|||
Daun beringin
|
|||
Daun andong
|
|||
Janur
|
|||
Mayang
|
|||
Jenang abang
|
|||
Jenang putih
|
|||
Jenang kuning
|
|||
Jenang ireng
|
|||
Jenang waras
|
|||
Jenang sengkolo
|
|||
3
|
Procotan
|
Delapan bulan dari masa kehamilan
|
Jenang abang
|
Jenang putih
|
|||
Jenang kuning
|
|||
Jenang ireng
|
|||
Jenang waras
|
|||
Jenang sengkolo
|
|||
Jenang inthil-inthil
|
|||
Jenang sewu (dawet)
|
|||
Jenang sempuro
|
|||
Jenang kembo
|
|||
Jenang procot
|
|||
Jenang arang-arang kambang
|
|||
Ketupat lepet
|
Kamajaya dan Kamaratih
(Dewi Ratih)
Upacara tersebut dimulai denga acara
kenduri telon-telon yang dihadiri oleh tetangga, kerabat, sanak saudara
dan lain-lain. Semua piranti telon-telon dibawa ke hadapan undangan. Setelah
semua piranti dihidangkan berjonggo atau sesepuh desa ngujubne yaitu menjelaskan
maksud dan tujuan diadakannya upacara tersebut dan menjelaskan makna satu per
satu dari makanan yang telah terhidang. Dengan sautan undangan dengan
kata-kata nggeh disetiap akhir kalimat yang diucapkan oleh
berjonggo. Satu per satu makanan yang dihidangkan dijelaskan hingga usai dan
dilanjutkan dengan do’a, dan yang terakhir dari rangkaian acara pertama ini
adalah memakan hidangan yang telah tersedia.
Selesai upacara yang pertama yaitu upacara
telon-telon, dengan menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakan upacara
tingkeban. Prosesi tingkeban inilah yang penulis anggap sakral karena mulai
dari hari sampai jam pelaksanaanya diyentukan dan tidak boleh dilanngar.
Sebelum acara dimulai sesepuh desa menata beberapa lembar kain jarit batik di
tengah rumah shohibul hajat. Secangkir air putih dan kelapa muda serta sebuah
sabitr besar diletakkan di depan pintu. Sedangkan di sisi pintu luar tepatnya
di teras rumah telah menunngu orang tua shohibul hajat dengan membawa lemper dan
bumbu rujak.Setelah semua siap dan waktu pelaksanaannya tiba, kedua shohibul
hajat masuk ke rumah dan duduk bersanding di atas kain jari yang telah
tertata.
Sesepuh desa membaca beberapa mantra
dan mengajari beberapa kalimat untuk ducapkan oleh shohibul hajat.Salah satu
penggalan kalimat tersebut adalah ”Niat ingsun nylameti jabang bayi,
supaya kalis ing rubeda, nir ing sambikala, saka kersaning Gusti Allah. Dadiyo
bocah kang bisa mikul dhuwur mendhem jero wong tuwa, migunani mring
sesama,ambeg utama, yen lanang kadya Raden Kamajaya, yen wadon kadya Dewi
Kamaratih kabeh saka kersaning Gusti.”
Usai prosesi tersebut keduanya berjalan
keluar rumah dengan larangan tidak boleh menengok ke belakang. Sesampainya
di depan pintu, calon bapak memecah kelapa muda dengan sabit yang
dibarengi dengan calon ibu menyampar cangkir. Upacara ini disebut juga upacara
brojolan, yaitu memasukkan sepasang kelapa gading muda yang telah digambari
Kamajaya dan Kamaratih atau Arjuna dan Sembadra ke dalam sarung dari atas perut
calon ibu. Makna simbolis dari upacara ini adalah agar kelak bayi lahir dengan
mudah tanpa kesulitan.
Di sisi lain nenek dari jabang bayi
tersebut menumbuk bumburujak yang telah disiapkan hingga halus.
Usai menyampar cangkir dan memecah kelapa muda, keduanya mandi dan kembali
ke dalam rumah melalui pintu utama. Sesampainya di dalam rumah akan dilanjut
dengan prosesi ganti busana. Prosesi ini dilakukan oleh calon ibi dengan tujuh
jenis kain batik dengan motif yang berbeda. Ibu akan memakai model kain yang
terbaik dengan harapan agar kelak si bayi juga memiliki kebaikan-kebaikan yang
tersirat dalam lambang kain.
Tabel 3. Jenis Kain dan Maknanya.
No
|
Jenis Kain Batik
|
Maknanya
|
1
|
Sidomukti
|
Kebahagiaan
|
2
|
Sidoluhur
|
Kemuliaan
|
3
|
Truntun
|
Nilai-nilai yang
selalu dipegang teguh
|
4
|
Parang Kusuma
|
Perjuangan untuk hidup
|
5
|
Semen Rama
|
Akan lahir anak yang
cinta kasih kepada orang tua yang sebentar lagi akan menjadi bapak dan ibu
tetap bertahan selama-lamanya.
|
6
|
Udan Riris
|
Anak yang akan lahir
akan menyenagkan dalam kehadirannya di masyarakat
|
7
|
Cakar Ayam
|
Anak yang lahir dapat
mandiri dan memenuhi kebutuhannya sendiri.
|
Sido Mukti
Sido luhur
Truntun
Parang Kusuma
Semen Rama
Udan Riris
Cakar Ayam
Bumbu rujak yang telah dihaluskan oleh
calon nenek jabang bayi tersebut selanjutnya dibawa ke dapur untuk segera
dicampur dengan beberapa buah-buahhn dan dihidangkan kepada para undangan.
Tak lama berselang dari prosesi inti yaitu
tingkeban maka langsung melanjutkan prosesi terakhir yaitu procotan. Dalam
prosesi ini tidak jauh berbeda dengan prosesi telon-telon, yaitu semua piranti
dihidangkan di hadapan undangan, setelah tersaji sesepuh desa ngujubne dan
di saksikan oleh undangan dengan menjawab kalimat- kalimat sesepuh tersebut
dengan kata “nggeh”. Seusai prosesi tersebut di akhiri dengan do’a
dan memakan hidangan yang ada.
C. Rangkaian Acara Tingkeban
1. Pembacaan Ayat Suci Al Qur’an
2. Sungkeman
Sungkeman
ini dilakukan oleh istri kepada suami dan dilanjutkan oleh suami – istri pada
orangtuanya.
3. Siraman
Siraman ini dilakukan
kepada calon orang tua jabang bayi dengan air dari 7 sumber dan dilakukan oleh
tujuh orang sesepuh keluarga. Gayung yang dipakai untuk siraman ini terbuat
dari kelapa yang masih ada dagingnya dan bagian dasarnya diberi lobang. Setelah
siraman si calon ibu dpakaikan kain 7 warna, yang melambangkan sifat-sifat baik
yang akan dibawa oleh jabang bayi dalam kandungan.
4. Pantes-pantes (Ganti Busana 7 kali)
Dalam acara pantes-pantes ini calon ibu dipakaikan
kain dan kebaya 7 macam. Kain dan kebaya yang pertama sampai yang ke enam
merupakan busana yang menunjukkan kemewahan dan kebesaran. Ibu-ibu yang hadir
saat ditanya apakah si calon ibu pantas menggunakan busana-busana tersebut
menberikan jawaban : “dereng Pantes” (belum pantas). Setelah dipakaikan busana
ke tujuh yang berupa kain lurik dengan motif sederhana baru ibu-ibu yang hadir
menjawab : “pantes” (pantas). Di sini merupakan perlambang bahwa ibu yang
sedang mengandung sebiknya tidak memikirkan hal yang sifatnya keduniawian dan
berpenampilan bersahaja.
5. Tigas Kendit
Calon ibu kemudian diikat perutnya (dikenditi) dengan
janur kuning. Ikatan janur ini harus dipotong (ditigas) oleh calon ayah si bayi
untuk membuka ikatan yang menghalangi lahirnya si jabang bayi. Ikatan tersebut
dipotong dengan keris yang ujungnya diberi kunyit sebagai tolak bala.
Tigas Kendhit
6. Brojolan
Dalam acara brojolan ini, dua buah Cengkir gading
(kelapa gading muda) yang telah diberi gambar wayang (biasanya gambar Betara
Kamajaya-Dewi Ratih atau Harjuna – Sembadra) dimasukkan oleh calon ayah melalui
perut calon ibu dan diterima oleh nenek jabang bayi. Harapan dari acara ini
adalah supaya si jabang bayi yang lahir memiliki fisik dan sifat seperti tokoh
wayang tersebut.
7. Angrem
Di sini Calon Ibu duduk di tumpukan kain yang tadi
digunakan dalam acara Pantes-pantes seperti ayam betina yang sedang mengerami
telurnya. Harapannya adalah agar si jabang bayi dapat lahir cukup bulan.
Pada saat pelaksanaan acara ini dikumandangkannya bacaan-bacaan “Shalawat
Nabi” yang diiringi alunan musik rebana.
8. Dhahar Ajang Cowek
Di sini calon ayah duduk mendamping calon ibu di
tumpukan kain dan berdua mengambil makanan yang disediakan dengan alas makan
cowek (cobek)dan mereka berdua memakannya sampai habis. Harapannya adalah
supaya plasenta bayi menjadi sehat sehingga si jabang bayi dapat bertumbuh
dengan sehat.
Calon ayah si bayi kemudian menjatuhkan tropong (alat
tenun tradisional ) di sela kain 7 warna yang melambangkan proses kelahiran si
bayi kelak yang berjalan lancar dan sempurna.
D. Kaitan Tingkeban Dengan Ajaran Islam
Sebenarnya pelaksanaan
tingkeban berangkat dari memahami hadits nabi yang diriwayatkan oleh Bukhori,
yang menjelaskan tentang proses perkembangan janin dalam rahim perkembangan
seorang perempuan. Dalam hadits tersebut dinyatakan bahwa pada saat janin
berumur 120 hari (4 bulan) dalam kandungan ditiupkan ruh dan ditentukan 4
perkara, yaitu umur, jodoh, rizki, dan nasibnya.
Sekalipun dalam hadits tersebut tidak
ada perintah untuk melakukan ritual, tetapi melakukan permohonan pada
saat itu tidak dilarang. Dengan dasar hadits tersebut, maka kebiasaan orang
jawa khususnya Yogya-Solo mengadakan upacara adat untuk melakukan permohonan
agar janin yang ada dalam rahim seseorang istri lahir selamat dan menjadi anak
yang soleh dan solekhah.
Pada dasarnya “Tingkeban” merupakan ritual yang
bernilai sakral dan bertujuan sangat mulia. Karena di dalam ritual Tingkeban
terdapat permohonan do’a kepada Gusti Alloh. Dan dikumandangkan kalimat-kalimat
Shalawat Nabi merupakan bukti pelaksanaan tingkeban secara Islami.
Dikumandangkannya Shalawat Nabi dalam tradisi umat Islam di Ponorogo dikenal
dengan “Berjanjen”.
Berjanjen ini diharapkan dapat memberikan pendidikan
kepada Janin yang dikandung oleh sang ibu sejak “Si Jabang Bayi” masih dalam
kandungan seiring dengan ditiupkannya “RUH” kepada “Si Jabang Bayi”.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian panjang di atas dapat
diambil kesimpulan bahwa tingkeban adalah suatu bentuk inisiasi
masyarakat pada jamandahulu, yang mengharapkan dikaruniai anak yang
seperti diharapkan serta memperoleh kelancaran baik ketika mengandung
maupun saat melahirkan. Tradisi ini dipercaya berawal pada masa
Jayabaya yang di wariskan turun temurun hingga sekarang dan ditaati oleh
sebagian besar masyarakat Jawa.
Adapun kaitannya dengan ajaran Islam
adalah sebagai penghormatan ketika masuknya ruh ke dalam jasad jabang bayi
dengan harapan agar ruh yang diberikan adalah ruh yang baik sehingga anak yang
lahir nantinya juga berakhlak baik pula.
Mitoni atau tingkeban merupakan rangkaian upacara
siklus hidup yang sampai saat ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat
jawa. Kata mitoni berasal dari kata “am” (awalan am menunjukkan kata
kerja) dan “7” yang berarti suatu kegiatan yang dilakukan pada bulan
ke-7. Upacara mitoni merupakan suatu adat kebiasaan atau suatu upacara yang
dilakukan pada bulan ke-7 masa kehamilan pertama seorang perempuan dengan
tujuan agar embrio dalam kandungan dan ibu yang mengandung senantiasa
memperoleh keselamatan. Pada hakekatnya upacara ini dipercaya sebagai sarana
menghilangkan petaka. Akan tetapi dalam syariat Islam adat seperti ini tidak
dibenarkan karena tidak sesuai dengan ajaran. Oleh karena itu seharusnya mulai
dari sekarang adat tersebut mulai untuk dihilangkan dari kehidupan masyarakat
dan akan membentuk masyarakat yang Islami.
Upacara adat 7 bulanan yang disebut mitoni
ataupun tingkeban ini mengajarkan kepada masyarakat untuk saling kerjasama
menghargai terhadap sesama.tidak hanya itu, mitoni ini mengangkat berbagai
macam kain-kain yang dipakai oleh calon ibu yang mempunyai makna masing-masing.
Dari makna-makna tersebut kita dapat mengambil pelajaran, yaitu kita sebagai
manusia makhluk ciptaan Allah SWT hendaknya harus cermat serta harus
merencanakan bagaimana kita hidup di dunia ini yang penuh dengan kesenangan
ataupun sendau gurau dan lainnya. Jika kita sebagai manusia hidup di dunia ini
tidak mempunyai tujuan hidup yaitu akhirat, alangkah menyesalnya kita sebagai
manusia. Oleh sebab itu kita harus mempunyai rencana- rencana maupun
target-target hidup di masa mendatang kelak, sehingga kita menjadi manusia yang
sukses tidak hanya di dunia namun di akherat pun juga. Dalam prosesi mitoni
juga dijelaskan bahwa yang memimpin upacara adalah ibu yang sudah
berpengalaman, disini bisa dilihat bahwa dalam suatu acara maupun kepanitiaan
maupun kepemerintahan, sudah tentu kita hendaknya memilih seseorang yang lebih
mengerti maupun lebih berpengalaman untuk memimpin suatu kelompok.
Upacara “Tingkeban” merupakan adat, tradisi dan budaya
bangsa Indonesia, khususnya masyarakat yang ada di pulau Jawa dan terlebih lagi
bagi masyarakat di Jawa Timur, Jawa Tengah maupun di Daerah Istimewa Yogjakarta.
Pada dasarnya “Tingkeban” merupakan ritual yang
bernilai sakral dan bertujuan sangat mulia. Karena di dalam ritual Tingkeban
terdapat permohonan do’a kepada Gusti Alloh. Dan dikumandangkan kalimat-kalimat
Shalawat Nabi merupakan bukti pelaksanaan tingkeban secara Islami.
Dikumandangkannya Shalawat Nabi dalam tradisi umat Islam di Ponorogo dikenal
dengan “Berjanjen”.
DAFTAR PUSTAKA
1. Gunasasmita. Kitab Pribmon Jawa Serbaguna. Yogyakarta:
Soemodidjaja
Mahadewa, 2009
4. Tjakraningrat, K.P. Harya Atassadhur Adimmakna. Yogyakarta:Soemodidjaja
Mahadewa, 1880.
5. Bektijamal Adimmakna. Yogyakarta:
Soemodidjaja Mahadewa, 1880.
6. Betaljemur Adimmakna. Yogyakarta:
Soemodidjaja Mahadewa, 1880.





















Komentar
Posting Komentar