Nasionalisme
“NASIONALISME”
A. PENGERTIAN NASIONALISME
Nasionalisme
adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan dalam sebuah
negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuksekelompok manusia
yang mempunyai tujuan atau cita – cita yang sama dalam mewujudkan kepentingan
nasional, dan nasionalisme juga rasa ingin mempertahankan negaranya , baik
internal maupun ekternal.
Para nasionalisme menganggap negara adalah
berdasarkan beberapa “ kebenaran” politik(political legitimacy) , bersumber
dari teori romantisme yaitu “identitas budaya”, debat liberalisme yang menganggap kebenaran politik adalah
bersumber dari kehendak rakyat,atau gabungan dari kedua teori itu.
Ikatan nasionalisme tumbuh ditengah
masyarakat saat pola pikirya mulai merosot,
ikatan ini terjadi saat manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah
tertentu dan tidak beranjak dari situ. Saat itu naluri mempertahankan diri
sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan negerinya,tempatya
hidup dan menggantungkan diri, dari sinilah cikal bakal tumbuhnya ikatan ini,
yang notabenya lemah dan bermutu rendah,.
Dalam zaman
moderen ini, nasionalisme merujuk kepada amalan politik dan ketentaraan yang
berlandasan nasionalisme secara etnikserta keagamaan.
B. LAHIRNYA NASIONALISME INDONESIA
Indonesia
telah dijajah oleh bangsa Barat sejak abad XVII, namun kesadaran nasional
sebagai sebuah bangsa baru muncul pada abad XX. Kesadaran itu muncul sebagai
akibat dari sistem pendidikan yang dikembangkan oleh pemerintah kolonial.
Karena, melalui pendidikanlah muncul kelompok terpelajar atau intelektual yang
menjadi motor penggerak nasionalisme Indonesia. Melalui tangan merekalah,
perjuangan bangsa Indonesia di dalam membebaskan diri dari belenggu
kolonialisme dan imperialisme Barat memasuki babak baru. Inilah yang kemudian
dikenal dengan periode pergerakan nasional. Perjuangan tidak lagi dilakukan
dengan perlawanan bersenjata tetapi dengan menggunakan organisasi modern.
Ide-ide yang
muncul pada masa pergerakan nasional hanya terbatas pada para bangsawan
terdidik saja. Selain merekalah yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi
juga karena hanya kelompok bangsawanlah yang mampu mengikuti pola pikir
pemerintah kolonial. Mereka menyadari bahwa pemerintah kolonial yang memiliki
organisasi yang rapi dan kuat tidak mungkin dihadapi dengan cara tradisional
sebagaimana perlawanan rakyat sebelumnya. Inilah letak arti penting organisasi
modern bagi perjuangan kebangsaan.
Ada beberapa
faktor yang menyebabkan lahirnya nasionalisme Indonesia. Secara umum bisa
dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor yang berasal dari dalam dan luar.
Faktor dari dalam antara lain sebagai berikut:
• Seluruh Nusantara telah
menjadi kesatuan politik, hukum, pemerintahan, dan berada di bawah kekuasaan
kolonial Belanda. Ironisnya adalah eksploitasi Barat itu justru mampu menyatukan
rakyat menjadi senasib sependeritaan.
• Munculnya kelompok
intelektual sebagai dampak sistem pendidikan Barat. Kelompok inilah yang
mampu mempelajari beragam konsep Barat untuk dijadikan ideologi dan dasar
gerakan dalam melawan kolonialisme Barat.
• Beberapa tokoh pergerakan
mampu memanfaatkan kenangan kejayaan masa lalu (Sriwijaya, Majapahit, dan
Mataram) untuk dijadikan motivasi dalam bergerak dan meningkatkan rasa percaya
diri rakyat di dalam berjuang menghadapi kolonialisme Barat.
Kondisi itulah
yang mampu memompa harga diri bangsa untuk bersatu, bebas, dan merdeka dari
penjajahan. Meskipun begitu, harus diakui bahwa munculnya kesadaran berbangsa
itu juga merupakan dampak tidak langsung dari perluasan kolonialisme. Oleh
karena itu, para mahasiswa yang menjadi penggerak utama nasionalisme Indonesia
bisa disebut sebagai tokoh penggerak dari masyarakat. Sedang faktor yang
berasal dari luar negeri antara lain kemenangan Jepang atas Rusia dalam perang
tahun 1905 yang mampu mengangkat rasa percaya diri bahwa bangsa berwarna bisa
mengalahkan bangsa kulit putih, lahirnya nasionalisme di kawasan Asia dan
Afrika yang berhasil membentuk negara-negara baru, serta beberapa prinsip dari
Woodrow Wilson yang termuat dalam Wilson 14 points. Semua nilai-nilai yang
berasal dari luar itu berhasil diserap oleh para tokoh pelajar intelektual kita
yang sedang belajar di luar negeri.
C. PERKEMBANGAN NASIONALISME INDONESIA
Semenjak
ide-ide perubahan dan nasionalisme mulai masuk ke Indonesia, ada perubahan di
dalam menghadapi kolonialisme dan imperialisme Barat. Perubahan itu antara lain
mencakup strategi, pemimpin pergerakan, dan cakupan wilayah gerakan. Perlawanan
terhadap kolonialisme tidak lagi ditempuh melalui perjuangan bersenjata tetapi
menggunakan organisasi atau perkumpulan yang dipimpin oleh kelompok bangsawan
terpelajar dengan cakupan wilayah yang lintas etnis dan budaya. Salah satu
faktor yang mampu mempersatukannya adalah adanya kesadaran nasional.
Kesadaran
itu mulai bangkit setelah periode politik etis diterapkan di Indonesia. Periode
ini ditandai oleh munculnya priayi baru yang menempatkan pendidikan sebagai
kunci perubahan masyarakat. Oleh karena itu, tidak aneh apabila banyak
organisasi pergerakan yang menempatkan pendidikan sebagai tujuan gerakan. Berikut
adalah gerakan yang muncul setelah kesadaran nasional mulai muncul di
Indonesia.
1. BUDI UTOMO
Politik etis
yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial Belanda membawa dampak munculnya
priyayi Jawa yang “baru” atau priyayi rendahan, mereka memiliki pandangan bahwa
kunci dari kemajuan adalah pendidikan.kelompok inilah yang kemudian dianggap
sebagai kelompok pembentuk organisasi pergerakan yang benar-benar modern.
Dilatarbelakangi
kondisi ekonomi yang buruk di Jawa, Dr. Wahidin Sudiro Husodo pada tahun
1906-1907 berkeliling pulau jawa, untuk memberikan penerangan tentang
cita-citanya kepada para pegawai Belanda dan dalam berusaha mencari dana untuk
beasiswa bagi pelajar Indonesia yang kurang mampu tapi cakap, Dr. Wahidin
berkeinginan untuk mendirikan badan pendidikan yang di sebut Studifonds. Usaha
dr. Wahidin tidak mendapatkan tanggapan yang positif dari pegawai pemerintahan
Belanda. Namun usahanya mendapat respon dari para pelajar. Usaha beliaulah yang
merupakan pendorong bagi pelajar, untuk mendirikan organisasi.
Organisasi
Budi Utomo berdiri tanggal 20 Mei 1908 oleh para mahasiswa Sekolah Kedokteran
(STOVIA) di Jakarta, yaitu Sutomo, Suraji, Gunawan Mangunkusumo. Budi Utomo
(BU) ini sejak awal sudah menetapkan bidang pendidikan sebagai pusat
perhatiannya, dengan wilayah Jawa dan Madura sebagai sasaran. Pro dan kontra
selalu mewarnai dalam kehidupan berorganisasi, tak terkecuali BU. Yang kontra
mendirikan organisasi tandingan Regent Bond, yang anggota-anggotanya berasal
dari kalangan bupati penganut status quo yang tidak menginginkan perubahan.
Sedang yang pro, antara lain Tirto Kusumo, merupakan kalangan muda yang
berpikiran maju.
Pada kongres
BU yang diselenggarakan pada 3-5 Oktober 1908, Tirto Kusumo diangkat menjadi
Ketua Pengurus Besar. Dalam kongres ini etnonasionalisasi semakin bertambah
besar. Selain itu, dalam kongres tersebut juga timbul dua kelompok, yaitu
kelompok pertama diwakili olah golongan pemuda yang merupakan minoritas yang
cenderung menempuh jalan politik dalam menghadapi pemerintah kolonial. Adapun
kelompok kedua merupakan golongan mayoritas diwakili oleh golongan tua yang
menempuh perjuangan dengan cara lama, yaitu sosiokultural.
Golongan
minoritas yang berpandangan maju dalam organisasi ini dipelopori oleh Dr.
Tjipto Mangunkusumo. Dia ingin Budi Utomo bukan hanya sebagai organisasi yang
mementingkan rakyat, melainkan organisasi yang memiliki jaringan di seluruh
Indonesia. Sementara itu, golongan tua menginginkan dibentuknya Dewan Pimpinan
yang didominasi oleh golongan tua. Golongan ini juga mendukung pendidikan yang
luas bagi kaum priyayi dan mendorong kegiatan pengusaha Jawa. Tjipto terpilih
sebagai salah satu anggota dewan. Namun, pada 1909 ia mengundurkan diri dan
bergabung dengan Indische Partiij.
2. SAREKAT ISLAM
Organisasi
ini mulanya merupakan perkumpulan para pedagang muslim yang dirintis oleh H.
Samanhudi dan R.M. Tirtoadisuryo tahun 1909. Tujuannya untuk melindungi hakhak
para pedagang muslim dari monopoli pedagang-pedagang besar Cina. Pada tahun
1911, Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam untuk menghimpun pedagang
muslim agar mampu bersaing dengan pedagang dari Arab, India, dan Cina. Tujuan
gerakannya adalah meningkatkan perekonomian anggotanya.
Organisasi
ini kemudian berkembang ke arah politik setelah dipegang oleh Haji Oemar Said
Tjokroaminoto dan berganti nama menjadi Sarekat Islam. Penindasan-penindasan
yang dilakukan oleh pemerintah kolonial tidak luput dari perjuangan organisasi
ini, apalagi jumlah anggotanya sangat besar. Tujuan gerakan ini antara lain
memajukan rakyat dengan cara persaudaraan dan tolong-menolong sesama muslim.
Pemerintah akhirnya memberikan kekuatan hukum tahun 1916, sehingga SI bisa
mengirimkan anggotanya ke Volksraad.
Sarekat Islam berubah lebih
radikal setelah disusupi paham sosialis yang dibawa oleh Sneevliet (pendiri
Indische Sosialistische Demokratische Vereeniging atau ISDV). Selain
menyebarkan paham sosialis juga terang-terangan menentang kebijakan
Tjokroaminoto. Akhirnya, organisasi ini pecah menjadi dua, yaitu SI Putih di
bawah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto (Islam) dan SI Merah di bawah Semaun
(Sosialis Komunis).
3. INDISCHE PARTIJ
Inilah
organisasi kaum Indonesia pertama yang menanamkan kesadaran kebangsaan Indonesia. Organisasi yang
dirintis oleh Douwes Dekker, bertujuan menghapuskan kolonialisme dan
eksploitasi Belanda atas rakyat Hindia Belanda. Pada tahun 1912, ia mengajak
Suwardi Suryaningrat dan Cipto Mangunkusumo untuk mengembangkan organisasi.
Sebagai organisasi yang berhaluan nasionalis, anggotanya berlatar belakang
lintas etnis dan budaya. Oleh karena itu, semboyan organisasi ini adalah Hindia
untuk bangsa Hindia.
Indische
Partij adalah partai politik pertama yang terang-terangan menuntut kemerdekaan
Indonesia. Pada saat Belanda memperingati 100 tahun kemerdekaannya dari
Prancis, Suwardi Suryaningrat menulis artikel yang berjudul Als Ik een
Nederlander was atau Seandainya Saya Seorang Belanda. Tulisan ini berisi
kritikan terhadap pemerintah Belanda atas rencana pengumpulan dana bagi
peringatan tersebut. Akhirnya, pada tahun 1913 Indische Partij dinyatakan
sebagai organisasi terlarang dan para tokohnya menyebar ke berbagai organisasi.
4. MUHAMMADIYAH
Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang bertujuan memurnikan pelaksanaan ajaran agama
Islam. Didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta.
Gerak dakwah organisasi ini adalah memajukan pengajaran dan kesejahteraan para anggotanya
dengan cara mendirikan sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan. Pada tahun 1914,
organisasi ini mendapat pengakuan dari pemerintah dan mendapat sambutan dari
rakyat.
Dalam waktu yang singkat,
Muhammadiyah mampu mendirikan cabangnya di Padang, Makassar, Bandung, Jakarta,
dan kotakota besar di Indonesia. Jumlah anggotanya pun juga dengan cepat
bertambah. Bahkan, organisasi ini juga ikut terlibat dalam perjuangan meraih
kemerdekaan Indonesia.
5. PERHIMPUNAN INDONESIA
Organisasi
inilah sesungguhnya yang meletakkan dasar-dasar nasionalisme Indonesia. Semula,
organisasi yang berdiri tahun 1908 ini bernama Indische Vereeniging, bersifat
moderat. Kedatangan para tokoh eks Indische Partij ke Belanda tahun 1913 mampu
memompa semangat para mahasiswa Indonesia di Belanda. Iwa Kusumasumantri
menjadi ketua dan menyatakan tiga prinsip organisasi. Pertama, Indonesia
menentukan nasibnya sendiri. Kedua, kemampuan dan kekuatan sendiri. Ketiga,
persatuan dalam menghadapi Belanda. Pada tahun 1925, berubah menjadi
Perhimpunan Indonesia dan semakin aktif di dalam menghadapi kolonialisme,
antara lain dengan mengikuti Kongres Liga Demokrasi Perdamaian Internasional di
Paris tahun 1926. Pada tahun 1927, PI menghadiri Liga Antikolonial di Brussels.
Nazir Datuk Pamuntjak menyampaikan pidato berjudul Indonesia en der
Vrijheidstrijd.
Pada tahun
1925, PI mengeluarkan manifesto politik yang isinya sebagai berikut. Pertama,
kesatuan nasional yaitu untuk mendirikan negara kebangsaan Indonesia yang
merdeka dan bersatu maka segala perbedaan etnis primordial harus ditiadakan.
Kedua, solidaritas yaitu menyamakan persepsi dan menghilangkan perbedaan untuk
menghadapi kolonialisme. Ketiga, nonkooperasi yaitu kesadaran bahwa kemerdekaan
bukanlah hadiah sukarela tetapi harus dicapai dengan perjuangan. Keempat,
swasembada yaitu mengandalkan kekuatan sendiri untuk membangun kehidupan bangsa
agar sejajar dengan bangsa kolonial. Keempat ideologi tersebut mampu membuka
jalan bagi lahir dan berkembangnya nasionalisme Indonesia. Apalagi para
mahasiswa kita di negeri Belanda juga mengetahui adanya Wilson 14 point yang
antara lain berisi kemerdekaan untuk menentukan nasib bangsa sendiri.
6. PARTAI NASIONAL INDONESIA
Tokoh utama
partai ini adalah Ir. Soekarno. Organisasi ini didirikan tanggal 4 Juli 1927
oleh para mahasiswa yang sedang melaksanakan studi di Bandung dan semakin
populer setelah PKI dilarang oleh pemerintah. Tujuan gerakannya adalah
kemerdekaan Indonesia, oleh karena itu sifatnya radikal. Salah satu metode yang
diterapkan oleh partai ini adalah rapat-rapat akbar. Dengan cara ini maka
rakyat bisa mengikuti pendidikan politik secara langsung dari para pemimpinnya.
Akibat
perlawanannya dengan pemerintah, banyak para tokohnya yang ditangkap oleh
pemerintah dan dipenjara atau dibuang ke berbagai daerah. Dalam pidato
pembelaannya di Landraad atau pengadilan negeri Bandung, Ir. Soekarno
menyampaikan pidato yang berjudul Indonesia Klaagt Aan atau yang dikenal dengan
Indonesia Menggugat. Pidato ini oleh banyak pengamat disebut sebagai tesis Bung
Karno tentang kolonialisme. Namun, pembelaan itu tidak bisa menghindarkannya
dari penjara selama 4 tahun.
Itulah
beberapa organisasi yang muncul karena rasa nasionalisme Indonesia, setiap
organisasi memiliki perbedaan yakni terdapat organisasi yang berlandaskan
agama, wilayah, maupun ekonomi dan pendidikan.
Daftar Pustaka
- Rus, Ernawati dan Ismawati,
Nursiwi. 2009. Sejarah untuk SMA/MA Kelas XI Program Studi Bahasa. Jakarta
: Pusat Perbukuan Depdiknas.
- Suwito, Triyono. 2009. Sejarah
SMA/MA Kelas XI Program Studi IPS. Jakarta : Pusat Perbukuan Depdiknas.
- http://softilmu.blogspot.com/2014/07/kelahiran-dan-perkembangan-nasionalisme.html
Komentar
Posting Komentar